RSS

memajukan indonesia dengan batik


Sejarah perkembangan batik tidak lepas dari pengaruh masyarakat dahulu, sebagaimana diteliti, batik berhubungan erat dengan kerajaan Majapahit. Batik berkembang pada abad ke-18 dan 19.Mulanya batik itu hanya berkembang di lingkungan keraton saja, yang dikerjakan dan digunakan oleh warga di lingkungan keraton. Lama-kelaman batik meluas sampai keluar dari lingkungan keraton, dan menjadi pekerjaan wanita rumah tangga untuk mengisi waktu senggang mereka.akhirnya batik yang dulunya hanya digunakan oleh masyarakat keraton kini meluas dan digunakan oleh seluruh masyarakat.

·        Batik Indonesia mulai dikenal dunia internasional

Perwakilan RI di negara anggota ­­Tim Juri (Subsidiary Body), yaitu di Persatuan Emirat Arab, Turki, Estonia, Mexico, Kenya dan Korea Selatan serta UNESCO-Paris, memegang peranan penting dalam memperkenalkan batik secara lebih luas kepada para anggota Subsidiary Body, sehingga mereka lebih seksama mempelajari dokumen nominasi Batik Indonesia.
UNESCO mencatat Batik Indonesia dan satu usulan lainnya dari Spanyol merupakan dokumen nominasi terbaik dan dapat dijadikan contoh dalam proses nominasi mata budaya tak-benda di masa
­­­­­datang.UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik. UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia.

pengakuan UNESCO pada 2 Oktober  2009, bahwa batik adalah asli dan tidak berwujud warisan budaya Indonesia telah mencabut klaim Malaysia. Sebagai pewaris batik dan pemilik. Lebih dari sekedar warisan budaya, batik juga telah menjelma menjadi industri dengan kontribusi tinggi terhadap perekonomian nasional. Selain itu, jumlah tenaga kerja dalam kelompok industri (TPT) adalah 1,62 juta orang memang. Nilai ekspor batik bahkan mencapai US $ 32.280.000 pada tahun 2008, dan US $ 10.860.000 dalam tiga bulan pertama tahun 2009.

Tidak ada salahnya jika kita mengucapkan terimakasih kepada Malaysia yang telah mengklaim batik sebagai warisan budayanya. Faktanya klaim itu sendiri berfungsi sebagai pelopor tumbuhnya kembali jiwa Nasionalisme bangsa kita yang sempat tersurut. Harus diakui bahwa klaim Malaysia atas batik sangat meresahkan perajin batik Indonesia. Klaim tersebut secara tidak langsung menjadi pemicu lahirnya Forum Masyarakat Batik Indonesia di Jakarta. Forum ini sadar bahwa generasi batik masa lampau hanya melihat kompetisi antar perajin di dalam negeri. Kini, sudah saatnya perajin batik bersatu, menunjukkan eksistensi bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia. Meskipun Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (waktu itu, dalam Kabinet Indonesia Bersatu I) Aburizal Bakrie menyatakan bahwa usulan nominasi batik ke Unesco bukan reaksi terhadap Malaysia, melainkan untuk kepentingan pengembangan batik Indonesia di pasar Internasional. Namun demikian, setidaknya klaim Malaysia tersebut menjadi salah satu pemicunya.


0 komentar:

Posting Komentar